Pendekatan SHIP (Sistemik, Holistik, Interdisipliner, Partisipatori) pada Program Biogas di Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan Provinsi Bali
DOI:
https://doi.org/10.24843/JITPA/2016.v01.i02.p06Keywords:
Pendekatan, sistemik, holistik, interdisipliner, partisipatori, program, biogasAbstract
Program biogas sudah dikenal di Indonesia sejak lama. Adanya program tersebut berbagai manfaat yang diperoleh selain untuk pengadaan energi juga merupakan teknologi yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, terutama dalam pengolahan limbah untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program biogas dan karakteristik pengguna bioreaktor di desa Kelating Kendala program biogas di desa Kelating, terutama dalam sistem dan disain biorektor serta pengolahan kotoran sapi menjadi kompos dianggap lebih menguntungkan. Juga program biogas di desa tersebut berbasis individu yang sedikit sekali melibatkan partisipasi masyarakat. Pada kondisi tersebut biasanya petani tidak tidak mampu mengarahkan kemampuannya secara optimal. Berbeda dengan program berbasis masyarakat adalah pelibatan fisik, mental, emosi, pikiran dan prilaku seseorang didalam situasi kegiatan kelompok dan mengupayakan agar setiap orang berkontribusi sama dalam menentukan hasil kelompok dan dalam menyampaikan pendapatnya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan pendekatan SHIP (SHIP Approach) Sistemik (Systemics), Holistik (Holistics), Interdisipliner(Interdiciplinary) dan Partisipatori (Participatory). Pada tahap pelaksanaan penelitian, langkah langkah yang dilakukan adalah ceramah, diskusi dan pengumpulan data dengan mengisi kuesioner penilaian petani terhadap program biogas. Karakteristik pengguna bioreaktor adalah berjenis kelamin laki-laki dengan rentangan umur antara 38 sampai 55 tahun, rerata 47,00 ±5,21 tahun. Berat badan subyek berkisar antara antara 55 sampai 72 kg dengan rerata 66,45 ±4,50 kg, dan tinggi badannya berada pada rentangan 155 sampai 175 cm dengan rerata 167,60 ±4,75 cm. Pengalaman kerja subyek berkisar antara 13 sampai 24 tahun dan rerata 23,70 ± 5,93tahun. Hasil analisis SWBR (strength, weakness, benefit dan risk), kelebihan yang ada di dalam diri anggota kelompok menjadi strength, kelemahan menjadi weakness, keuntungan yang diperoleh dengan adanya perbaikan menjadi benefit, dan resiko yang akan dihadapi bila perbaikan dilakukan menjadi risk, dengan demikian pelaksanaan program biogas di desa Kelating tetap tidak terlaksana dengan baik walaupun sudah melibatkan petani, tokoh masyarakat, pimpinan, kepala lingkungan dan instansi terkait, hal tersebut karena berbagai keterbatasan terutama pola fikir tentang manfaat biogas.
References
Arsa, W., Y. Setiyo dan I Made Nada. (2013). Kajian Relevansi Sifat Psikokimia Tanah Pada Kualitas dan Produktifitas Kentang. Skripsi FTP Universitas Udayana. Badung- Bali.
Setiyo, Y. 2009. Aplikasi Kompos Dari Sampah Kota Sebagai Pupuk Organik Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Jahe Merah. Disajikan di Seminar Nasional Basic Science VI Tanggal 21 Februari 2009 di Universitas Barawijaya, Malang.
Setiyo, Y., Suparta U., Tika W., dan Gunadya, IBP. 2011. Optimasi Proses Bioremediasi
Secara in-Situ Pada Lahan Lahan Tercemar Pestisida Kelompok Mankozeb. Jurnal Teknologi Industri Universitas Muhamadiyah Malang, ISSN 1978-1431. Vol 12 No : 1 pg : 53-58, Februari 2011.
Setiyo, Y., I BW Gunam, Sumiyati, dan Manuntun Manurung. (2013). Optimalisasi Produktivitas Kentang Bibit Varietas Granola G3 Dengan Manipulasi Dosis Pemupukan. KARYA UNUD UNTUK ANAK BANGSA 2013 ISBN: 578-602- 7774-76-0. Universitas Udayana
Setiyo I BW Gunam, Sumiyati, dan Manuntun Manurung. (2014). Kajian Populasi Mikroba Pada Proses Bioremediasi Secara In-Situ Di Lahan Budidaya Kentang. Prosiding SENASTEK 2014.
Sutanto, R. (2002). Penerapan Pertanian Organik.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Sutedjo, M. M. 2002. Pupuk Dan Cara Penggunaan. Jakarta: Rineka Cipta.
