Manajemen Rantai Pasok Beberapa Komoditas Hortikultura di Kabupaten Klungkung
DOI:
https://doi.org/10.24843/JITPA/2017.v02.i01.p07Keywords:
Rantai Pasok, Nilai Tambah, Hortikultura, Analytical Hierarchy Process (AHP), HayamiAbstract
Tujuan penelitian adalah: identifikasi struktur rantai pasok hortikultura dan menganalisis nilai tambah yang diperoleh pada masing-masing rantai, sehingga diperoleh distribusi nilai tambah pada masing-masing rantai yang nantinya akan bermuara pada rekomendasi pengembangan sistem manajemen rantai pasok hortikultura di Kabupaten Klungkung. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk mengukur kinerja kunci rantai pasok dan mengukur nilai tambah. Untuk kinerja kunci rantai pasok digunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), sedangkan untuk mengukur nilai tambah digunakan metode Hayami. Struktur rantai pasok pada komoditas cabai adalah Petani – Pedagang Pasar Klungkung – Konsumen, sedangkan pada komoditas jagung, struktur rantai adalah Petani – Pedagang Pasar di Denpasar – Konsumen serta Petani (Supplier) – Supermarket – Konsumen. Manajemen rantai pasok hortikultura yang diterapkan di Klungkung secara umum masih bersifat tradisional. Kinerja kunci rantai pasokan mempertahankan “Kemitraan yang berkelanjutan” (0,325), dengan indikator kinerjanya adalah atribut reliabilitas (keandalan) (0,257). Untuk atribut reliabilitas (keandalan), indikator kinerja yang harus ditingkatkan adalah: pemenuhan pesanan secara sempurna, kualitas produk, serta kualtas proses. Nilai tambah yang diterima petani cabai adalah sebesar Rp 3.325/kg, dengan pendapatan tenaga kerja adalah sebesar Rp 9.448/kg, dan keuntungan yang diperoleh adalah minus Rp 6.123/kg. Nilai tambah yang diterima petani jagung adalah sebesar Rp 2000/kg, pendapatan tenaga kerja adalah sebesar Rp 960/kg, dan keuntungan yang diperoleh adalah Rp 1040/kg.
References
Alim S, Marimin, Yandra A, dan Faqih U. 2011. Studi Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasok Sayuran Dataran Tinggi di Jawa Barat. Jurnal Agritech, Vol. 31, No. 1, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Astuti, R. 2012. Pengembangan Rantai Pasok Buah Manggis Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Disertasi tidak dipublikasikan. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Aramyan L, Ondersteijn C, Van Kooten O, Lansink AO. 2006. Performance Indicators in Agri-Food Production Chains. Quantifying the Agri-Food Production Chains. Wageningen: Springer.
CIRDAP. 2010. Reduction of Post Harvest Losses by Improving Storage Methods and Technologies. Agricultural and Rural Development Planning and Economic Research Institu
te (ARDPERI). Tehran. Iran.
FAO. 2003. Selected Indicators of Food and Agriculture Development in Asia- Pacific Region 1992-2002. Food and Agriculture Organization of the United Nations Regional Office for Asia and the Pacific. Bangkok October 2003, diunduh dari http://www.fao.org/DOCREP/004/AD 452E/ad452e1y.htm pada 17 Desember 2011.
La Gra, J. 1999. A Comodity Systems Assessment Methodology for Problem and Project Identification. Postharvest Institue for Perishables. Collage of Agriculture University of Idaho. Moscow.
Marimin, Djatna T., Suharjito, Hidayat S., Utama D.N., Astuti R., Martini S.,
2013, Teknik dan Analisis Pengambilan Keputusan Fuzzy dalam Manajemen Rantai Pasok, IPB Press, Bogor
Marimin, N. dan Maghfiroh. 2010. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan dalam Manajemen Rantai Pasokan. IPB Press. Bogor.
Mutiarawati, T. 2007. Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian. Makalah Workshop Pemandu Lapangan I (PL-1) Sekolah Lapangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (SL-PPHP) Departemen Pertanian.
Pemerintah Kabupaten Klungkung, 2013, Profil Kabupaten Klungkung, http://www.klungkungkab.go.id/index. php/profil/15/Kondisi-Geografis
Perdana, T. 2009. Pemodelan Dinamika Sistem Rancangbangun Manajemen Rantai Pasokan Industri Teh Hijau. Disertasi tidak dipublikasikan. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Poerwanto, R. 2009. Dasar-Dasar Hortikultura. Bahan Ajar. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Setiawan, A. 2009. Studi Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasokan Sayuran Dataran Tinggi Terpilih di Jawa Barat. Tesis tidak dipubikasikan. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Sutrisno. 1996. Peranan Teknologi Pascapanen dalam Agroindustri. Agrimedia hal: 28-
30. Volume 2 No.2 September 1996 ISSN: 0853-8468.
The World Bank. 2007. Horticultural Producers and Supermarkaet Development in Indonesia. The World Bank report No. 38543-ID.
Widia, W., dan K.B. Susrusa. 2010. Pemetaan Proses Bisnis dan Analisis Rantai Nilai Komoditi Cabe Merah di Provinsi Bali. Disampaikan pada Seminar Nasional Hortikultura. PERHORTI, 25-26
November 2010.
Worinu, M. 2007. The Operation and Effectiveness of Formal and Informal Supply Chains for Fresh Produce in the Papua New Guinea Highlands. Unpublished thesis. Lincoln University
Woods, J. E. 2004. Supply Chain Management: Understanding the Concept and Its Implications in Developing Countries. 18-26 Proceedings of a workshop” Agriproduct Supply-Chain Management in Developing Countries” held in Bali, Indonesia. 19–22 August 2003.
Yuniar, A., R. 2012. Analisis Manajemen Rantai Pasok Melon Di Kabupaten Karanganyar. Tesis tidak dipublikasikan. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
