Potensi Dan Peran Serta Krama Subak Dalam Pengembangan Kawasan Agrowisata Di Kecamatan Mengwi Dan Kuta Utara, Kabupaten Badung

Penulis

  • I Made Ari Artaya Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Badung, Mangupura
  • I Made Agus Sugianto Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Badung, Mangupura
  • I Nyoman Manuaba Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Badung, Mangupura
  • I Gusti Ayu Ngurah Lita Rumiati Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Badung, Mangupura

DOI:

https://doi.org/10.24843/JRMA.2026.v14.i01.p15

Kata Kunci:

subak, agrowisata, partisipasi masyarakat, potensi kawasan, Badung.

Abstrak

Kabupaten Badung memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pariwisata, sementara sektor pertanian berbasis subak menghadapi tekanan alih fungsi lahan dan penurunan kontribusi ekonomi. Integrasi pertanian dan pariwisata melalui pengembangan agrowisata berbasis subak menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan lanskap agraris sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi subak sebagai kawasan agrowisata dan menganalisis peran serta krama subak dalam pengembangannya di Kecamatan Mengwi dan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Penelitian menggunakan pendekatan partisipatif-spasial melalui kombinasi metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Analisis Daerah Operasi dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-DTWA) terhadap 83 subak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh subak berada pada kategori cukup potensial hingga sangat potensial, dengan kekuatan utama pada daya tarik alam-budaya, kondisi lingkungan, ketersediaan air, dan aksesibilitas. Subak Werdhi Putra Sedana dan Subak Tegan termasuk kategori sangat potensial karena memiliki atraksi lengkap, sarana dasar, dan dukungan masyarakat tinggi. Krama subak menunjukkan partisipasi kuat dalam pelestarian budaya, pengelolaan lanskap, penyediaan atraksi edukatif, serta jasa wisata, namun masih menghadapi keterbatasan kapasitas, fasilitas, dan pemasaran. Secara spasial, Kecamatan Mengwi berperan sebagai kawasan inti agrowisata subak, sedangkan Kuta Utara sebagai kawasan transisi agraris-pariwisata. Pengembangan agrowisata subak memerlukan penguatan kapasitas masyarakat, peningkatan fasilitas, dan model tata kelola berbasis komunitas untuk menjamin keberlanjutan ekonomi, sosial, dan budaya.

 

Diterbitkan

2026-03-31

Terbitan

Bagian

Articles