Karakteristik Sensori dan Warna Sate Lilit Ayam Dengan Perlakuan Penambahan Gula Kelapa

Penulis

  • I Made Ananda Merta Shaskara Universitas Udayana
  • I Made Mertayasa Universitas Udayana
  • I Made Mertayasa Universitas Udayana
  • Luh Putu Wrasiati Universitas Udayana

DOI:

https://doi.org/10.24843/JRMA.2024.v12.i02.p11

Kata Kunci:

sate lilit, gula kelapa, sifat sensoris, warna

Abstrak

Sate lilit merupakan makanan tradisional Bali yang digemari oleh masyarakat lokal maupun wisatawan. Sate Lilit biasanya terbuat dari daging ayam, sapi, dan babi. Hampir semua restoran tradisional menyajikan sate lilit sebagai menu andalan mereka. Pengolahan sate lilit cukup rumit dengan bumbu yang lengkap sehingga proses penyajiannya seringkali memakan waktu yang lama. Saat ini mulai diperkenalkan sate lilit beku, sate lilit yang telah dimasak, dikemas vakum dan dibekukan. Umur simpan sate ini relatif lama sekitar 2-3 bulan. Perlakuan pada penelitian ini yaitu penambahan gula kelapa 0%, 5%, 7.5%, 10%, 12.5%, dan 15% dari adonan sate yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan gula kelapa terhadap karakteristik sensorik dan warna sate lilit. Tujuan kedua adalah menentukan jumlah gula tambahan untuk mendapatkan karakteristik sate lilit terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan penambahan gula kelapa memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik sensorik dan warna sate lilit. Makin banyak penambahan gula, warna sate menjadi makin gelap dan makin merah. Ciri terbaik dari sate lilit adalah penambahan gula kelapa sebanyak 10 persen. Sate lilit ini mempunyai karakteristik rasa dengan nilai rata-rata 4,6 (sedikit manis hingga manis), tekstur dengan nilai rata-rata 4,45 (normal hingga agak keras), penerimaan keseluruhan dengan nilai 5,85 (agak suka hingga suka), kemudian intensitas warna L sebesar 54,45, a sebesar 2,95 dan b sebesar 19,10.

Diterbitkan

2026-01-17

Terbitan

Bagian

Articles