KOLOKASI BAHASA BALI: KAJIAN SEMANTIK
Keywords:
Kolokasi, Bahasa Bali, SemantikAbstract
Kajian tentang bahasa Bali dari sudut semantik memiliki dua masalah. Kedua masalah itu adalah (1) Bagaimanakah hubungan antarunsur pembentuk kolokasi bahasa Bali? dan (2) Bagaimanakah perbedaan kolokasi dan idom berdasarkan hubungan unsur-unsurnya? Kedua masalah ini dikaji berdasarkan konsep kolokasi yang diterapkan oleh D.A. Crush (1986). Ia mengemukakan bahwa kolokasi digunakan untuk mengacu kepada urutan leksikal yang berpasangan masing-masing konstituen leksikal merupakan konstituen sematis. Misalnya, dalam bahasa Bali: nasi pasil ‘nasi basi’. Kata nasi ‘nasi’ mengandung makna yang lebih khusus karena maknanya sudah terikat dengan makna kata pasil ‘basi’. Inilah yang membedakan dengan sifat-sifat idiom. Dari segi bentuk idiom juga berupa pasangan kata tapi makna dari masing-masing konstituen pasangan kata itu tidak transparan lagi. Hubungan antara unsur-unsur kolokasi dapat ditinjau secara sintagmatik dan paradigmatik. Kedua hubungan ini berkaitan afinitas dan disafinitas. Afinitas sintagmatik memiliki potensi yang mewujudkan asosiasi normalitas, sedangkan disafinitas paradigmatik dapat mewujudkan hubungan secara abnormalitas. Dari segi hubungan makna antarunsur pasangan kata, kolokasi dapat dibedakan dengan idiom. Kalau kolokasi makna leksikal unsur pembentuknya masih jelas tampak (transparan), sedangkan idiom makna leksikal unsur-unsurnya tidak dapat diramalkan.