MATERUNA NYOMAN : RESOLUSI PENDIDIKAN HUMANISTIK BALI AGA DI TENGANAN PEGRINGSINGAN
Keywords:
Materuna Nyoman, Resolusi, Budaya, Pendidikan HumanistikAbstract
Konflik merupakan bagian dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan dan suatu fenomena umum dikalangan masyarakat, namun dalam pemecahannya tentu tetap memerlukan resolusi, guna dampak yang ditimbulkan tidak meluas. Resolusi menjadi sebuah proses akil balik pembaharuan baik dalam tatanan sosial maupun budaya, dan proses positif dari resolusi ini telah dirasakan di Desa Adat Tenganan Pegringsigan. Desa Adat Tenganan Pegringsingan merupakan representative masyarakat Bali Aga yang masih memegang teguh adat, budaya dan tradisi yang rupanya telah berhasil membuktikan bahwa Tenganan Pegringsingan tetap eksis walaupun dikepung oleh globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Hal ini dikarenakan masyarakat Tenganan Pegringsingan tetap mempercayakan budaya dan tradisi lokal sebagai bentuk pendidikan humanistik dalam bidang agama, sosial kemasyarakatan, bahkan pendidikan yang diperkuat oleh aturan adat (awig-awig). Materuna Nyoman menjadi salah satu bentuk resolusi di bidang pendidikan informal yang diprakarsai oleh Krama Desa Adat Tenganan Pegringsingan, yang diperuntukan untuk para teruna Tenganan Pegringsingan di masing-masing Bale Patemu. Materuna Nyoman mengibaratkan manusia layaknya metemorfosis kupu-kupu dimana setiap fase metamorfosis ditandai dengan sebuah kegiatan sakral yang saling bertaut berkesinambungan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas karakter diri dari setiap peserta teruna nyoman. Tradisi ini berlangsung selama 1 tahun (nemu gelang) dengan proses sebagai berikut: Maajak-ajakan, Malali, Mabasen Pamit, Padewasaan atau kagedong, Matamiang, Malegar, Ngintarang Katekung, Namiu Katamiu, Ngejot Gede, Ngetog, Katinggal.Hasil karya ilmiah ini merupakan hasil penelitian jenis kualitatif yang menggunakan teori psikologi sosial dan teori nilai, dengan pendekatan etnografi. Tehnik pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode wawancara, metode kepustakaan, data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis dekskriptif interpretatife, analisis yang dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan langkah-langkah kegiatan mereduksi data, penyajian data, serta melakukan verifikasi untuk membuat kesimpulan.