Teater GloBALIsme: Pariwisata, Interkoneksi Global, dan Nasib Manusia Bali di Garis Depan
Keywords:
(cultural) tourism, globalization, frontier, tactics, never-never, frictionAbstract
The development of the tourism industry in Bali has had various implications.Apart from extraordinary social change, there is the issue of how Balinese menstruggle to maintain their cultural identity in the midst of globalized tourism.Balinese men are at the frontier of a society where global powers meet to exploitnatural and human resources for the sake of tourism. Some Balinese men havelost their historical relationship to Bali because their own land has been sold toinvestors. Origin and identity maintenance are no longer directed to the land orto certain communities, but rather to a never-never land, a (global) world withoutmeaning that one is no longer able to localize (Laksono, 2009b). It is in this neverneverspace without meaning that we witness fragments and stories of Balinesemen making use of opportunities, developing tactics, and even fighting againsttourism, which Tsing (2005) has called friction. In this so-called friction, localidentity and culture are continually reproduced, the beginning and end of whichare difficult to fathom.
Downloads
References
Bagus, I Gusti Ngurah. 1999. “Keresahan dan Gejolak Sepuluh
Tahun terakhir di Bali: Beberapa Catatan tentang
Perubahan Sosial di Era “Glokalisasi”” dalam Henri
Chambert-Loir dan Hasan Muarif Ambary (ed), Panggung
Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard,
Jakarta, Ecole Francaise dExtreme-Orient, Pusat Penelitian
Arkeologi Nasional dan Yayasan Obor Indonesia.
Bali Post, 12 April 2007.
De Certeau, Michel. 1984. The Practice of Everyday Life, California:
University of California Press.
Laksono, PM. 2009a. “Peta Jalan Antropologi Indonesia Abad
Kedua Puluh Satu: Memahami Invisibilitas (Budaya) di
Era Globalisasi Kapital”. Pidato Pengukuhan Jabatan
Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Gadjah Mada.
Laksono, P.M. 2009b. Spektrum Budaya (Kita), Yogyakarta: Kepel
Press, Pusat Studi Asia Pasfik Universitas Gadjah Mada
dan Ford Foundation.
Kompas, 22 Februari 2008.
Mangunwijaya, Y.B. 1987. Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (Sebuah Novel
Sejarah), Jakarta: Penerbit Djambatan.
Mantra, Ida Bagus. 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar:
Dharma Sastra.
Mudana, Gde. 2005. “Pembangunan Bali Nirwana Resort di
Kawasan Tanah Lot: Hegemoni dan Perlawanan di Desa
Beraban, Tabanan, Bali”(desertasi) Program Doktor,
Program Studi Kajian Budaya, Program Pascasarjana,
Universitas Udayana Bali.
Nordholt, Henk Schulte. 2002. Kriminalitas, Modernitas dan Identitas
dalam Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nordholt, Henk Schulte. 2010. Bali Sebuah Benteng Terbuka.
Denpasar: Pustaka Larasan dan KITLV
Pitana, I Gde. 1999. Pelangi Pariwisata Bali, Kajian Aspek Sosial
Budaya Kepariwisataan Bali di Penghujung Abad, Denpasar:
Bali Post.
Picard, Michel. 2006. Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata,
Jakarta: KPG.
Pitana, I Gde. 1999. Pelangi Pariwisata Bali, Kajian Aspek Sosial
Budaya Kepariwisataan Bali di Penghujung Abad, Denpasar,
Bali Post.
Pujiarini Dwi Wulan dan Esti Anantasari. 2010. Panduan Penelitian
Lapangan Antarbudaya, Yogyakarta, PSAP UGM dan Ford
Foundation
Robinson, Geoffery. 2006. Sisi Gelap Pulau Dewata, Sejarah Kekerasan
Politik, Yogyakarta, LKiS.
Santikarma, Degung. nd. “Budaya, Kuasa, dan Pariwisata”,
makalah tidak diterbitkan.
Santikarma, Degung. 2003. “Ajeg Bali: Dari Gadis Cilik ke Made
Schwarzenegger”, Kompas 7 Desember 2003.
Setia, Putu. 1986. Menggugat Bali. Jakarta: Grafiti Pers.
Sujaya, I Made. 2002. Sepotong Nurani Kuta, Catatan Seputar Sikap
Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002, Denpasar:
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan
Kuta.
Suryawan, I Ngurah. 2010. Genealogi Kekerasan dan Pergolakan
Subaltern: Bara di Bali Utara, Jakarta: Prenada Media
Tsing, Anna Louwenhaupt. 2005. Friction: An Ethnography of Global
Connection. Princeton and Oxford: Princeton University
Press
Vickers, Adrian. 1989. Bali: A Paradise Cretated. Victoria: Penguin.
Wirata, Putu. 2002. “Bali, Kristalisasi dan Resistensi Kultural” (hlm.
471-483) dalam Bentara Esei-esei 2002. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas.













