“Rerajahan Kawisesan” dalam Teks “Ajiblêgodawa”: Sebuah Kajian Etnosemiotika
Keywords:
rerajahan, Kawisesan, AjiBlêgodawa, Ethno- semiotic, BaliAbstract
This study aims to analyze the form, function, and meaning rerajahan kawisesanin the Text of AjiBlêgodawa. This research was carried outby using ethno-semiotic approach, the method of text analysis linking text reading, in the form of images (rerajahan) to explore the meaning of the community readers. Data were collected through library research, observation, interviews, and documentation. Data were analyzed by means of: 1) identification rerajahan as nonverbal text, 2) ethno-semiotic analysis, phase I (denotative) and phase II (connotative). The results showed that: 1) the form of rerajahan kawisesanin AjiBlêgodawa Text consist of: a) Kaputusan Aji Kundalini, b) Kanda Pat, c) Surya Ireng, and d) Windu Ngadeg; 2) rerajahan kawisesan function is body and soul protector in order to avoid magical distress; 3) the meaning of kawisesan image is to keep the peace.
References
Anadhi, I Made Gede. 2015. “Etika Pemanfaatan Kayu sebagai Bahan
Bangunan: Kearifan Lokal Bali Bernilai Ekologi dan Berkarakter
Universal dalam Prosiding Seminar Nasional Kearifan Lokal
Indonesia untuk Pembangunan karakter Universal. Denpasar:
Fakultas Dharma Acarya Denpasar.
Berger, Arthur Asa.2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer
Suatu Pengantar Semiotika. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
Budhisantoso. S.1980/1981. “Tradisi Lisan sebagai Sumber Informasi
Kebudayaan”, Analisis Kebudayaan 2:63-67
Coward, Harold.1989. Pluralisme Challenge to world Religions atau
Pluralisme tantangan bagi Agama-Agama, terjemahan Bosco
Carvello.Yogyakarta: Kanisius.
Goris, R. (t.t.). Kepercayaan Orang Bali. Tanpa penerbit
Gunarsa, Ketut. 1993. Gambar Lambang. Denpasar: CV Kayu Mas.
Hadi, Y. Sumandiyo Hadi. 2006. Seni dalam Ritual Agama. Surabaya:
Pustaka.
Hooykaas, C. 1980. Drawing of Balinese Sorcery, terjemahan I Gusti
Made Sutjaja 2000. Denpasar: Pusat Dokumentasi Budaya Bali.
Propinsi Bali.
Jaman, I Gede. 1999. Fungsi dan Manfaat Rerajahan dalam Kehidupan.
Surabaya: Paramita.
Kaler. (TT). Krakah Modre Aji Griguh.
Kerepun, Made Kembar. 2005. Analisis SWOT dalam Strategi Mencapai
dan Memelihara Ajeg Bali. Surabaya: Paramita.
Kuntowijoyo, 2006. Budaya dan Masyarakat (Edisi Paripurna).
Yogyakarta: Tiara Wacana.
La Niampe, Juki. 2013. Upacara Kaago-Ago dalam Tradisi Perladangan
pada Masyarakat Muna: Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna”
dalam Mudra Jurnal Seni Budaya Volume 28 No.2 Juli 2013 hlm.
121-128.
Nala, Ngurah. 2006. Aksara Bali dalam Usada. Surabaya: Paramita.
Nitihardjo Soeprapto. 2001. Andharan dan Tafsir Filsafat Hanacaraka.
Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
Nyoka, 1994. Krakah Modre II. Denpasar: Ria.
Ormesson, Jean D. 1983. Individu dan Masyarakat. Semesta yang diancam
Kegawatan dalam Dunia, Macam Apa yang akan Kita Wariskan pada
Anak-Anak Kita. Jakarta: PT Midas Surya Grafindo.
Pitana, I Gde. 2005. Bali yang Ajeg adalah Bali yang Berubah. Surabaya:
Paramita
Rasna, I Wayan.2009. Pemaknaan Rerajahan sebagai Sarana Ritual dalam
Teks AjiBlêgodawa dengan Penerapan Metode Etnosemiotika
dalam Peningkatan Kualitas Sosial. Singaraja: Lemlit Undiksha.
Rasna, I Wayan. 2012. Rerajahan Ilmu Putih dalam Teks AjiBlêgodawa:
Sebuah Kajian Aksiologis Etnosemiotika Disampaikan dalam
Seminar Nasional Nilai-Nilai Filsafat dalam Susastra Hindu
pada Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar 24 Oktober 2012:
Denpasar.
Suata, I Putu Gede. 2005.”Menggalang Magiologi untuk Memahami
Sistem Religi sebagai unsur Kebudayaan Universal”, dalam
Seminar Dwi Mingguan Fakultas Sastra Universitas Udayana di
Denpasar.
Sugriwa, I GK. 1978. Penuntun Pelajaran Kakawin. Denpasar: Sarana
Bhakti.
Sirtha, I Nyoman. 2005. Nilai Hindu dalam Ajeg Bali. Surabaya:
Paramita.
Sumerjana, Ketut. 2013 “Komparasi Gender Barung Jawa dan Gender
Wayang Bali Kajian Sejarah dan Fisika” dalam Mudra Jurnal Seni
dan Budaya, volume 28, Nomor 1, Januari 2013, hlm. 106-112.
Sutaba, I M. 1980. Prasejarah Bali Denpasar. Bali: Yayasan Purbakala.
Suteja, I Ketut. 2014 “Seni danReligi” Spiritual Medium Topeng Bali
dalam Kreativitas Tan Bali Masa Kini” dalam Mudra Jurnal Seni
Budaya, Volume 29 No.1, Februari 2014.
Suwena, I Wayan Putu. 2005. Perspektif Ajeg Bali dalam Pola Pengamanan
Terpadu. Surabaya: Paramita.
Titib, I Made. 2005. Ajeg Bali Perpektif Pengamalan Agama Hindu.
Surabaya: Paramita.
Titib, I Made. 2001. Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu.
Surabaya: Paramita.
Warna, I Wayan. 1991. Kamus Bali-Indonesia. Denpasar: Dinas
Pendidikan Dasar Propinsi Bali.
Wiana, I Ketut. 2005. Ajeg Bali adalah Tegaknya Kebudayaan Hindu di Bali.
Surabaya: Paramita.
Widyo, H Prayanto. 2013 “Estetisasi Fotografi dalam Iklan Media
Cetak” dalam Mudra Volume 28, Nomer 2. Juli.
Yudabakti, I Made dan I Wayan Watra. 2007. Filsafat Seni Sakral dalam
Kebudayaan Bali. Surabaya: Paramita.













