Kontestasi Penjor Galungan – Kuningan di Bali Visualisasi Doa Petisi secara Demonstratif untuk Kemakmuran pada Era Masyarakat Tontonan
Keywords:
Penjor Galungan- Kuningan, symbolization, family welfare, the prayer of petitionAbstract
This article is part of the fundamental research carried out for two years (2013-2015). The research method is qualitative which refers to the critical paradigm. The research location is villages representing various districts in Bali and Denpasar city. The results showed that the use of Penjor on Galunga and Kuningan holy day is common in Bali. Penjor is a ritual objects made from a piece of bamboo which its end is intentionally left curved, decorated with various ornaments of young coconut leaves or palm leaves and other supplies. Penjor is installed on the roadside in front of the Balinese family compound’s entrance. Penjor does not only have an artistic value, but it is also rich in symbolic meaning such as visualization of petition prayer addressed to the Hindu deities and dewa pitara (ancestor). The goal is to achieve prosperity for the entire family in the Balinese community. This article is expected to provide a broader understanding to Hindus about Penjor. Penjor is not only a cultural object with artistic values, but it also contains a hidden meaning, namely the prayer of petition in the sociology of religion.
References
Adnyana, G. A. B. 2013. “Tunjung Biru Raja Bunga untuk Kewisesan”.
Majalah Raditya. Edisi 196, Nopember 2013.Halaman 14-15.
Ajidarma, S. G. 2011. Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan.
Jakarta: KPG.
Atmadja, Nengah Bawa. 2010. Genealogi Keruntuhan Majapahit Islamisasi,
Toleransi dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Atmadja, N. B. 2010a. Ajeg Bali Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi.
Yogyakarta: LKiS.
Atmadja, N.B. dan Anantawikrama Tungga Atmadja. 2013. Teknologi sebagai
Reperesentasi Ideologi dalam Bentuk Masyarakat Multiwajah Teori
Segala Hal (TSH) sebagai Pedoman Bertindak untuk Mengubah Teknologi
dari Pembawa Musibah Menjadi Berkah bagi Umat Manusia. Singaraja:
Pascasarjana.
Atmadja, I Md. N. dkk. 2008. Nilai Filosofis Penjor Galungan & Kuningan.
Surabaya: Paramita.
Baudrillard, Jean P. 2004. Masyarakat Konsumsi. [Penerjemah. Wahyunto].
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Djojosuroto, K. 2007. Filsafat Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Darmayasa. 2012. Bhagavad-gita (Nyanyian Tuhan). Panjer: Yayasan Dharma
Stapanam.
Eriyanto. 2013. Analisis Naratif. Jakarta: Kencana.
Fiske, J. 2004. Cultural and Comunication Studies: Sebuah Pengantar Paling
Komprehensif. [Penj. Y. Iriantara & I.S. Ibrahim]. Yogyakarta: Jalasutra.
Fiske, J. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. [Penerjemah Haspari
Diwiningtyas]. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: UI-Press.
Lubis, A. Y. 2012. Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Sosial-Budaya
Kontemporer. Depok: Departemen Filsafat FIB UI.
McCarthy, T. 2006. Teori Kritis Jϋrgen Habermas. [Penerjemah Nurhadi].
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Mawwinara, I.W. Dewa-Dewa Hindu. Surabaya: Paramita.
Miasa, W. 2013. “Menjadikan Hidup Seperti Tunjung Biru”. Majalah
Raditya.Edisi 196, Nopember 2013.Halaman 12-13.
Mittal, M. 2006. Pesan Tuhan untuk Kesejahteraan Umat Manusia Intisari Veda.
[Penerjemah I Wayan Punia] . Surabaya: Paramita.
Nala, N. 2011. “Penjor dan Sanggah Cucuk”. Dalam K.M. Suhardana ed.
Manjangan Sekaluang Himpunan Berbagai Tulisan. Surabaya: Paramita.
Noerhadi, T. H.. 2013. Aku dalam Budaya: Telaah Teori dan Metodologi Filsafat
Budaya. Jakarta: Gramedia.
Norris, Ch.. 2006. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida.
[Penerjemah Inyiak Ridwan Muzir] Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Northcott, M. S. 2002. “Pendekatan Sosiologis”. Dalam Peter Connolly
(ed). Aneka Pendekatan Studi Agama. [Penerjemah Imam Khoiri].
Yogyakarta: LKiS. Halaman 271-314.
Parisada Hindu Dharma. 1972. Upadesa Ajaran Agama Hindu. Denpasar
Parusada Agama Hindu.
Pulasari, J.M. 2013. Rare Angon dan Catur Yadnya Bhuta Yadnya, Manusa
Yadnya, Pitra Yadnya, Dewa Yadnya. Surabaya: Paramita.
Puspa, I. A. T. 2013. “Bunga Tunjung Biru di Airsanya”. Majalah Raditya.
Edisi 196 Nopember 2013, halaman 10-11.
Ritzer, G. 2012. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan
Terakhir Postmodern ed kedelapan. [Penerjemah Saut Pasaribu, dkk,].
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saeng, V. 2012. Herbert Marcuse: Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sandika, I K.. 2013. “Makna Penggunaan Bunga Tunjung dalam Ritual:
Simbol Pengkongkritan Niskala ke Sekala”. Majalah Raditya. Edisi
196, Nopember 2013. Halaman 10-11.
Sim, S. dan Borin Van L. 2008. Mengenal Teori Kritis. Yogyakarta: Resist Book.
Simatupang, L. 2013. Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya.
Yogyakarta: Jalasutra.
Smart, B. 2000. “Periodesasi dan Politik dalam Posmodernisme”. Dalam
Bryan Turner (ed). Teori-Teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas.
[Penerjemah Imam Baehaqi dan Ahmad Baidlowi]. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Halaman 24-49.
Strinati, D. 2003. Popular Culture Pengatar Menuju Teori Budaya Populer.
[Penerjemah A. Mukhid]. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Sudarta, T.R. 2011. “Mantra dengan Berbagai Bahasa”. Dalam K.M.
Suhardana ed. Manjangan Sekaluang Himpunan Berbagai Tulisan.
Surabaya: Paramita. Halaman 73-75.
Suhardana, K.M. 2011. Menjangan Sakaluang. Surabaya: Paramita.
Sumarta, I K. 2008. “Banten Kesadaran Bali Baru” Majalah Gumi Sarad.
Nomor 97. Halaman 3.
Turner, B. S. 2000. “Periodesasi dan Politik dalam Posmodernisme”. Dalam
Bryan Turner (ed). Teori-Teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas.
[Penerjemah Imam Baehaqi dan Ahmad Baidlowi]. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Halaman 3-23.
Turner, B. S. 2003. Agama dan Teori Sosial: Rangka Pikir Sosiologi dalam Membaca
Eksistensi tuhan di Antara Gelegar Ideologi-ideologi Kontemporer.
[Penerjemah Inyiak Ridwan Muzir]. Yogyakarta: IRCiSoD.
Wijaya, I M. T. 2013. “Pandangan Umat Hindu Terhadap Bunga Tanjung”
Majalah Raditya. Edisi 196 Nopember 2013. Halaman 16-17.













