Pengaruh Jenis Pelarut dan Waktu Maserasi terhadap Ekstrak Kulit Biji Kakao (Theobroma cacao L.) sebagai Sumber Antioksidan
DOI:
https://doi.org/10.24843/JRMA.2020.v08.01.p16Kata Kunci:
kulit biji kakao, ekstraksi, pelarut, antioksidanAbstrak
Kulit biji kakao merupakan limbah pengolahan kakao dalam jumlah cukup besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah kulit biji kakao dapat dimanfaatkan lebih optimal melalui ekstraksi senyawa polifenol untuk digunakan sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut dan waktu maserasi terhadap karakteristik ekstrak kulit biji kakao sebagai sumber antioksidan, serta menentukan jenis pelarut dan waktu maserasi terbaik untuk menghasilkannya. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis pelarut yang terdiri dari metanol 95%, etanol 96%, dan aseton 90%. Faktor kedua adalah waktu maserasi yang terdiri dari 24, 36, dan 48 jam. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pelarut dan waktu maserasi berpengaruh sangat nyata terhadap rendemen, total fenolik, dan kapasitas antioksidan. Interaksi antarperlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap total fenolik dan kapasitas antioksidan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen ekstrak kulit biji kakao. Perlakuan terbaik untuk menghasilkan ekstrak kulit biji kakao sebagai sumber antioksidan adalah penggunaan pelarut etanol dengan waktu maserasi 48 jam, yang menghasilkan karakteristik rendemen sebesar 11,72±0,45%, total fenolik sebesar 80,76±1,12 mg GAE/g, dan kapasitas antioksidan sebesar 49,55±1,13 mg GAEAC/g.






