Pengaruh pH Awal dan Suhu Penyimpanan terhadap Stabilitas Betasianin Ekstrak Pewarna dari Bunga Kenop (Gomphrena globosa L.)
DOI:
https://doi.org/10.24843/JRMA.2021.v09.04.p02Kata Kunci:
Ekstrak bunga kenop, betasianin, pH, suhu, stabilitasAbstrak
Bunga kenop merupakan bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami. Bunga ini memiliki kandungan betasianin yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH awal dan suhu terhadap stabilitas ekstrak pewarna serta menentukan pH awal dan suhu penyimpanan yang memberikan stabilitas terbaik terhadap ekstrak pewarna bunga kenop selama penyimpanan. Percobaan ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah pH awal yang terdiri atas pH 4, pH 5, dan pH 6. Faktor kedua adalah suhu penyimpanan yang terdiri atas suhu 4±1ºC dan suhu 28±2ºC. Data dianalisis dengan Analysis of variance untuk mengetahui pengaruh dari setiap faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH awal berpengaruh sangat nyata terhadap kadar betasianin, nilai tingkat kecerahan (L*), tingkat kemerahan (a*), dan tingkat kekuningan (b*) selama penyimpanan ekstrak pewarna bunga kenop. Suhu berpengaruh sangat nyata terhadap kadar betasianin dan nilai tingkat kecerahan (L*), dan berpengaruh sangat nyata terhadap nilai tingkat kemerahan (a*) pada minggu ke-3 dan 4, serta berpengaruh sangat nyata terhadap nilai tingkat kekuningan (b*) pada minggu ke-1 dan 3, hanya berpengaruh nyata terhadap nilai tingkat kekuningan (b*) pada minggu ke-4. Interaksi kedua perlakuan berpengaruh sangat nyata setiap minggunya terhadap kadar betasianin, dan berpengaruh sangat nyata terhadap nilai tingkat kecerahan (L*) pada minggu ke-1 dan 2, hanya berpengaruh nyata terhadap nilai tingkat kemerahan (a*) pada minggu ke-2, dan berpengaruh sangat nyata terhadap nilai tingkat kekuningan (b*) pada minggu ke-3 dan 4. Ekstrak pewarna dari bunga kenop paling stabil pada pH awal 4 dan suhu dingin (4±1ºC) selama penyimpanan. Penyimpanan ekstrak pewarna bunga kenop selama 4 minggu menyebabkan penurunan kadar betasianin sebesar 34,76%, nilai tingkat kemerahan (a*) sebesar 61,85%, namun menyebabkan peningkatan nilai tingkat kecerahan (L*) sebesar 70,91 %, nilai tingkat kekuning-kuningan (b*) sebesar 67,21% terhadap kontrol.






