Optimasi Pembuatan Mikroemulsi Minyak Aroma Vanila Menggunakan Metode Response Surface Methodology (RSM)
DOI:
https://doi.org/10.24843/JRMA.2026.v14.03.p09Kata Kunci:
Mikroemulsi, Minyak Aroma Vanila, Optimasi, Response Surface MethodologyAbstrak
Minyak aroma vanila memiliki sifat lipofilik dan volatilitas tinggi sehingga sulit diaplikasikan pada produk kosmetik berbasis air tanpa menggunakan pelarut alkohol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan pengadukan, lama pengadukan, dan derajat keasaman (pH) pelarut terhadap karakteristik mikroemulsi minyak aroma vanila, serta menentukan kondisi optimalnya menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) rancangan Box-Behnken Design (BBD). Formulasi mikroemulsi menggunakan campuran surfaktan nonionik berupa Tween 20, Tween 80, dan Span 80. Faktor yang dioptimasi meliputi kecepatan pengadukan (500-700 rpm), lama pengadukan (3-5 menit), dan pH pelarut (4,5-6,5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH pelarut memberikan pengaruh paling dominan dan sangat signifikan (p < 0,01) terhadap persentase transmitansi (T%), diikuti oleh faktor lama pengadukan (p < 0,05). Kondisi optimal pembuatan mikroemulsi tercapai pada kecepatan pengadukan 500 rpm, lama pengadukan 3,35 menit, dan pH 5,01. Validasi model menunjukkan akurasi yang sangat baik dengan persentase Error 0,20%. Pada kondisi optimal tersebut, dihasilkan mikroemulsi dengan nilai persentase transmitansi (T%) setelah inkubasi 24 jam sebesar 97,6 ± 0,058% dan setelah sentrifugasi sebesar 97,6 ± 0,129%. Produk akhir memiliki ukuran partikel 12,24±3,276 nm. Selain itu, sediaan mikroemulsi ini juga telah memenuhi syarat mutu eau de cologne (SNI 16-4949-1998) dengan bobot jenis 1,05 ± 0,0005 g/mL dan cemaran mikroba 1,50 × 10³ ± 0,58 × 10³ koloni/mL.






