Karakteristik Biopelet Limbah Ceper Canang Pada Variasi Konsentrasi Perekat Tapioka Dan Lama Pengeringan
DOI:
https://doi.org/10.24843/JRMA.2026.v14.03.p14Kata Kunci:
Biopelet, Ceper Canang, Tapioka, lama pengeringan, energi terbarukanAbstrak
Tingginya aktivitas ritual keagamaan di Bali berdampak pada peningkatan volume limbah organik, khususnya limbah canang. Bagian ceper canang yang terbuat dari janur memiliki potensi sebagai sumber biomassa karena kandungan lignoselulosanya yang tinggi, namun pemanfatannya sebagai energi alternatif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi perekat tapioka dan lama pengeringan terhadap karakteristik biopelet limbah ceper canang serta menentukan perlakuan terbaik yang sesuai dengan standar mutu SNI 8021-2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi perekat tapioka (10%, 20%, dan 30%) dan faktor kedua adalah lama pengeringan (1 jam, 2 jam, dan 3 jam) pada suhu 90°C. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kerapatan, dan nilai kalor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi perekat dan lama pengeringan berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap seluruh karakteristik biopelet. Nilai rendemen berkisar antara 50,25 – 81,00 kadar air 2,50 - 7,20%, kadar abu 3,21 - 8,05%, kadar zat terbang 32,19 -75,07%, kerapatan 0,630 - 0,843 g/cm³, dan nilai kalor 2328,31 – 4150,54 cal/g. Perlakuan terbaik diperoleh pada kombinasi konsentrasi perekat 30% dan lama pengeringan 3 jam (A3T3) yang menghasilkan kadar air 3,51%, kadar abu 8,05%, kadar zat terbang 61,22%, kerapatan 0,843 g/cm³, dan nilai kalor 4012,88 cal/g. Karakteristik biopelet pada perlakuan ini telah memenuhi standar SNI 8021-2014 untuk parameter kadar air, kadar zat terbang, kerapatan, dan nilai kalor, meskipun kadar abu masih berada di atas ambang batas maksimal.






