Uji Fitokimia dan Daya Hambat Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) dan Rimpang Kunyit (Curcuma longa. L) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
DOI:
https://doi.org/10.24843/JFU.2026.v15.i01.p05Keywords:
Uji Fitokimia, AntibakteriAbstract
Bakteri Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif yang bersifat patogen dan dapat membentuk koloni pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Kolonisasi Staphylococcus aureus menjadi awal dari timbulnya infeksi yang dapat menyebabkan penyakit berat seperti pneumonia, sepsis, cardiditis pada manusia dan mastitis pada hewan. Bakteri ini memiliki kemampuan resisten terhadap antibiotik yang saat ini digunakan sebagai pengobatan standar infeksi. Senyawa fitokimia seperti flavonoid, tanin, fenolik, dan alkaloid dari tanaman dapat menjadi salah satu alternatif untuk pembuatan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan uji fitokimia dan daya hambat dari ekstrak kloroform-metanol daun kelor dan rimpang kunyit terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan pengambilan data secara kualitatif dan kuantitatif. Metode ekstraksi sampel menggunakan metode maserasi dengan pelarut kloroform-metanol. Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan saponin, alkaloid, flavonoid, tanin, terpenoid/steroid, glikosida, fenolik. Pada uji daya hambat menggunakan konsentrasi 50%,12.5%, dan kontrol positif antibiotik tetrasiklin. Hasil penelitian menunjukan dalam ekstrak daun kelor terdapat 6 senyawa fitokimia dan dari rimpang kunyit terindetifikasi 3 senyawa fitokimia dari total keseluruhan 7 uji. Ekstrak daun kelor dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus sebesar 10,7-12,6 mm.
