Mengolah Sampah menjadi Rupiah: Latar Belakang Sosial dan Perubahan Citra Pemulung di TPA Desa Bengkala, Buleleng, Bali

Authors

  • Tuty Maryati Universitas Pendidikan Ganesha
  • Luh Putu Sri Ariyani Universitas Pendidikan Ganesha
  • Nengah Bawa Atmadja Universitas Pendidikan Ganesha

DOI:

https://doi.org/10.24843/JKB.2018.v08.i02.p12%20

Keywords:

organic waste, scavengers, pigs, family income, Bali

Abstract

This article examines the background of scavengers at Bengkala village landfill and its working pattern in processing certain organic wastes into rupiah through pig farms. Data was collected by in-depth interview techniques, observation, and document study, then discussed with sociocultural and adaptation theories. Analysis shows that scavenger background included poverty, unemployment, market economic pressure, individualism reinforcement, waste as a source of sustainable fortune, not exclusive, and scavenger as an informal sector. All of these lead to change image of scavengers which were originally considered dirty, rough, ugly, and low, turned into the opposite, so that someone is willing to be a scavenger. Waste as a source of livelihood comes from inorganic waste in the form of junk and certain organic waste as pigs food. Pig farmers process organic waste so that it produces pigs for their own consumption and is sold to meet various basic needs for the family.

👁 Abstract Views: 4📥 PDF Downloads: 4

References

Atmadja, N.B. 1999. Pemulung Jalanan di Kota Singaraja, Buleleng, Bali.

Singaraja: FKIP Universitas Udayana.

Atmadja, N.B. 2010. Ajeg Bali: Gerakan, Kultural, dan Globalisasi. Yogyakarta:

LKiS.

Atmadja, N.B. dan L.P. S. Ariyani. 2017. Sosiologi Media Perspektif Teori

Kritis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Cheung, S.N.S. 1985. “Penetapan Kontrak dan Alokasi Sumber Daya

dalam Perikanan Laut”. Dalam Ian Smith dan Farial Maharudin eds.

Ekonomi Perikanan. [Penerjemah Yayasan Obor Indonesia]. Hlm. 23-

42. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Dawkins, R.. 2018. The Selefish Gene Gen Egois. [Penerjemah K. El-Kazhiem].

Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Effendi, T.N. 1993. Sumber Daya Manusia Peluang Kerja dan Kemiskinan.

Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Hardin, G. 1985. “Tragedi Kebersamaan”. Dalam Ian Smith dan Farial

Maharudin eds. Ekonomi Perikanan. [Penerjemah Yayasan Obor

Indonesia]. Hlm 3-22. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Horton, P. B. dan C. L. Hunt. 1987. Sosiologi Jilid 1. [Penerjemah Aminuddin

Ram dan Tita Sobari]. Jakarta: Erlangga.

Magnis-Suseno, F. 1999. Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke

Perselisihan Revisionisme. Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.

Maryati. T., L.P.S. Ariyani dan N.B. Atmadja, 2017. Pemulung sebagai

Subkultur. Singaraja: Undiksha.

Maryati, T., L.P.S. Ariyani dan N.B. Atmadja. 2017a. Pengalihan Sampah

Menjadi Rupiah Melalui Ternak Babi Pada TPA Sampah Di Desa

Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali. Makalah dipresentasikan

pada Seminar Nasional Riset Inovatif tanggal 18 November 2017 di

Nusa Dua Bali.

Ramli, R. 1992. Sektor Informal Perkotaan Pedagang Kaki Lima. Jakarta: Ind-

Hill.Co.

Ramly, A.M. 2000. Peta Pemikiran Karl Marx [Materialisme Dialektis dan

Materialisme Historis]. Yogyakarta: LKiS.

Ritzer, G. Dan D.J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern.. [Penerjemah

Alimandan]. Jakarta: Prenada Media.

Sanderson, S.K. 2012. Makrososiologi Sebuah Pendekatan terhadap Realitas

Sosiologi. [Penerjemah Farid Wadjidi dan S. Menno]. Jakarta: PT

RajaGrafindo.

Wijayanto, E. 2011. Evolusia Kebudayaan: Perspektif Darwinian tentang kondisi

Sosial Budaya Manusia. Jakarta: Salemba Humanika.

Wijayanto, E. 2012. Seri 2 Genetika Kebudayaan. Jakarta: Salemba

Humanika.

Wolff, J. 2004. Mengapa Masih Relevan Membaca Marx Hari Ini? [Penerjemah

Yudhi Santoso]. Yogyakarta: Mata Angin.

Downloads

Published

2018-04-06

How to Cite

Tuty Maryati, Luh Putu Sri Ariyani, & Nengah Bawa Atmadja. (2018). Mengolah Sampah menjadi Rupiah: Latar Belakang Sosial dan Perubahan Citra Pemulung di TPA Desa Bengkala, Buleleng, Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 8(2), 197–214. https://doi.org/10.24843/JKB.2018.v08.i02.p12