Refleksi Kekerasan dalam Rumah Tangga dalam Cerita Rakyat Bali Tuwung Kuning: Analisis Feminisme
DOI:
https://doi.org/10.24843/JKB.2018.v08.i02.p05%20Keywords:
Tuwung Kuning Folkore, feminism, vulnerable women, gender equalityAbstract
The purpose of this article is to examine Tuwung Kuning (Yellow Egg Plant) folklore based on the feminist approach. The object of the study is the drama script and performance Tuwung Kuning recording. Data were analysed with hermeneutic method, namely the interpretation of text both written and audiovisual texts. The results of the study show that the manuscripts and theater express the theme of domestic violence. The female character of the story, Tuwung Kuning, is very weak and in an oppressed conditions. The bullying was carried out by the husband and by environmental conditions of a gambler family. The female character was powerless and oppressed by male-based power of patriarchy, even though in a state of old pregnancy, when giving birth and caring for the child. She was threatened, terrorized and killed. This condition is very contrary to the spirit of feminism that fights for gender equality so that the position of women is equal to men. The change in the fate of this female character is not by herself, but by an angel, as a fortune.
References
Artawan, I Gde. 2014. “Konflik Tubuh dan Seksualitas Perempuan Bali
dalam Hegemoni Kultural (Kajian Femenisme Terhadap Kaum
Subaltern dalam Pandangan Sastrawan Bali),” Makalah Seminar
Nasional Sastra Indonesia dan Daerah 29-30 Oktober 2014 Balai
Bahasa Provinsi Bali.
Artika. I Wayan. 2006 “Tuwung Kuning dan Men Brayut, Kajian Budaya
Tentang Perempuan Bali dan KDRT,” dalam Jurnal Kajian Budaya Vo.
3 No. 6 Juli 2006. Denpasar : Pascasarjana Kajian Budaya Unud.
Astika, I Made. 2014. “Perempuan di Mata laki-laki Bali: Sebuah Kritik
Sastra Feminis Drama Tuwung Kuning karya I Wayan Artika.
Prosiding Paradigma Baru pembelajaran Bahasa, sastra Indonesia dalam
Kurikulum 2013 dan Implementasinya. Singaraja: FBS Universitas
Pendidikan Ganesha.
Bagus, I Gusti Ngurah dan I Ketut Ginarsa. 2013. Kembang Rampe.
Kesusastraan Bali Purwa. Denpasar: Balai Bahasa Bali.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Endraswara, Suwardi. 2013. Metode Penelitian Sastra Epistemologi, Model,
Teori dan Aplikasi. Yogjakarta : Media Presindo.
Laksmi, Nitya. 2015.“ Naskah Drama Tuwung Kuning.” Tabanan : Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Saraswati Tabanan.
Mantra, Gayatri. 2011. “Sisi Gelap Kekerasan Ideologi Patriarki pada
Perempuan Bali,” dalam Majalah Ekspresi Tahun III, April 2011 hlm
14-15.
Ratna, Kutha I Nyoman. 2004. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogjakarta : Pustaka Pelajar.
Putra, I Nyoman Darma. 2007. Wanita Bali Tempo Doeloe Perspektif Masa
Kini. Denpasar; Pustaka Larasan.
Suastika, I Made. 2012. Tradisi Sastra Lisan (Satua) di Bali Kajian Bentuk,
Fungsi danMakna.Denpasar: Pustaka Larasan.
Sugihastuti dan Suharto. 2005. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya.
Yogjakarta: Pustaka Pelajar
Sugihastuti. 2002. Teori dan Apresiasi Sastra. Yogjakarta : Pustaka Pelajar.
Udayana, I Dewa Gede Alit. 2010. Pesan-pesan Kebijaksanaan Bali Klasik
dalam Dongeng, Lagu, Syair dan Pertanda Alam. Denpasar: Pustaka
Bali Post.
Wahyudi, dkk. (2016). Perempuan Bali dalam Dua Cerita Pendek: Selir
Sundari Karya I Made Iwan Darmawan dan Kaung Bedolot Karya I
Gede Aries Pidrawan (sebuah Kajian Etnografi Komunikasi) dalam
Prosiding Pemartabatan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Kajian
Bahasa, Sastra dan Pengajarannya. Singajara: Undiksha
Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminisme Teori dan Aplikasinya dalam Sastra
Indonesia. Yogjakarta: Ombak.













